
Sebagai
orangtua dan dewasa terkadang kita lupa bahwa seorang anak merupakan asset,
baik bagi keluarganya, lingkungannya, agamanya begitupun untuk negaranya. Bagaimana
jika hak- hak anak tak sepenuhnya tersampaikan, jangankan untuk pendidikan,
tempat tinggal, makan dan minum, hal yang terutama perlu tersampaikan adalah
kasih dan sayang dari sekelilingnya terutama orangtua dan keluarganya. Jangan salahkan
sekolah jika ternyata anak sering dikatakan “nakal” oleh lingkungan sekolahnya
padahal yang sebenarnya orangtualah yang harus berkaca mengenai pendidikan
pertama anaknya yaitu dirumah. Jangan salahkan teman- teman dilingkungan
rumahnya jika mereka sering membuat temannya menangis, memukul dengan
sembarangan, berkata kasar, dan hal lain sebagainya. Sebagai orangtua
berkacalah, bagaimana sebetulnya selama ini pendidikan pertama yang telah
diberikan ? pengaruh perilaku seseorang memang dapat dipengaruhi dari berbagai
hal, seperti lingkungan sekolah dan lingkungan rumah tetapi jangan dilupakan bahwa lingkungan
keluargapun sangat berpengaruh.
Sering
kita dengar bahwa, orangtua tidak ada yang tidak menyayangi anaknya, walaupun
harus dengan pukulan, omelan, dan caci maki, maka itulah yang disebut tanda sayang mereka. Aku
setuju bahwa orangtua pastilah menyayangi anaknya, tapi aku sangat tidak setuju
dengan didikan yang begitu keras seperti halnya diatas. Di dalam islam, seorang
anak boleh dipukul jika mereka enggan
melaksanakan shalat, bukan hal lainnya. Setiap pukulan, omelan, dan caci maki
memang bisa membuat sebagian anak jera dengan hal itu, namun harus diketahui
bahwa hal itu hanya kebal di rumah, bukan di luar rumah.
Sering
sekali aku menemukan anak- anak yang begitu takut dengan orangtuanya di rumah
sehingga mereka menjadi anak yang pendiam, namun ketika mereka bertemu temannya
dilingkungan lain atau bertemu orang lain, mereka akan melampiaskan apa yang
mereka dapat di rumah kepada orang lain di luar rumahnya. Orangtua yang paham bahwa
anak adalah titipan yang sudah Allah berikan kepada mereka, maka mereka pasti
tahu jika anak bisa saja menjadi cobaan atau sebaliknya, mereka tahu anak ini
harus diapakan sehingga kelak bisa membela agama tuhannya, bisa membahagiakan
keluarganya, bisa membantu lingkungan dan negaranya. Jika hanya dengan berbagai
kekerasan yang dilontarkan, apakah mereka mampu untuk itu ? membuat dirinya
baik pun sulit karena keluarga hanya menanamkan kekerasan. Apa mereka harus
membela dengan kekerasan ? dengan caci maki ? lebih banyak orang melakukan
sesuatu hal atas dasar pengetahuannya bukan pemahamannya. Mereka tahu untuk
menyelesaikan masalah bisa dengan kekerasan tetapi tidak paham bahwa kekerasan
yang dirinya lakukan belum tentu menyelesaikan setiap masalah yang ada.
Tri
pusat pendidikan yang kita ketahui adalah, lingkungan keluarga, lingkungan
rumah, dan lingkungan sekolah. Semenjak kuliah di jurusan PGSD, aku sering
mendengar kasus bahwa terdapat anak yang terlahir di lingkungan keluarga yang
baik namun memiliki kepribadian yang buruk, padahal yang kita ketahui
sebelumnya adalah pendidikan pertama itu terlahir di keluarga sehingga
seharusnya pondasi tersebut harus sudah kuat, namun ternyata hal ini bisa saja
berubah karena lingkungan rumah atau sekolah yang sangat kejam ditambah ketika
pengawasan keluarga yang menurun karena menganggap atau terlanjur mengenal anaknya
baik ketika bersama keluarganya. Maka perlu diketahui sebetulnya hal inipun
kembali lagi terhadap pengawasan orangtua yang begitu sangat penting. Memang sangat
banyak kasus pelecehan seksual, narkoba, dan lain kasus yang menyeramkan tetapi
ini semua kembali lagi, semua harus bermula dari pendidikan agama, pendidikan karakter yang terbangun
dengan sangat baik, dan juga membangun pribadi anak yang percaya bahwa orangtua
pendukung mereka, orangtua yang sangat menyayangi mereka, bukan malah menghancurkan kepercayaan anak bahwa, ternyata orangtua mereka yang begitu menyayangi
mereka, tetapi seketikapun dapat berubah menjadi monster, menjadi musuh nyata
yang mereka hadapi, sehingga anak mengalami kerusakan mental, pembentukan cara pandang dan pola pikir yang tidak baik, pola pikir kekerasan dan hal- hal kasar yang lainnya.
Aku
memang belum lama ini terjun di dunia sekolah, dunia anak- anak yang sangat
polos, dunia anak yang tahu bahwa orangtuanyalah yang menyayangi mereka, orangtuanyalah
yang benar dan lain sebagainya. Sehingga ketika orangtua berkata kasar,
memukul, maka itulah yang mereka tanam dalam- dalam pada diri mereka. Usia-
usia di sekolah TK yang masih sangat baik dalam menyerap dan menerapkan hal- hal baik yang dia lihat dan dia dengar. Namun ternyata harus disayangkan anak seusia mereka sudah memiliki banyak sekali kosa kata kasar dan tak senonoh. Mereka datang ke sekolah dengan muka lebam dan dengan polos mengatakan kepada gurunya jika dirinya "dipukul mamah", mereka tanpa rasa bersalah dapat dengan mudah memukul temannya karena hal sepele atau malah tanpa ada masalah sama sekali, mereka hanya bisa memberi alasan “mamah/ayahku juga suka pukul”.
Miris, sedih, sakit melihat dan merasakan mental anak- anak itu hancur, terluka. Pola pikir serta cara pandang mereka tersasar. Sebetulnya anak hanya butuh contoh, karena anak kecil, anak yang berusia dini cara berfikirnya masihlah konkrit atau nyata. secara tidak langsung apa yang dia lihat dan dia dengar itulah pengetahuan yang mereka punya, sehingga mereka akan melakukan suatu hal atas dasar pengetahuannya karena memang itulah pola berfikirnya, konkrit.
Sejauh ini seorang guru hanya bisa mengingatkan, mencontohkan dan mendoakan agar mereka dapat berubah karena lingkungan yang dihadapinya di sekolah. Dan untuk para orangtua berhentilah menyakiti mental mereka yang masih polos yang hanya bisa meniru belum pandai memilah-milih, dan untuk kalian para calon orangtua, siapkan hati yang tulus karena Allah swt, untuk membangun generasi- generasi yang dapat membahagiakan dan membela baik keluarganya, lingkungannya, agamanya, dan juga negaranya kelak. Aamiin.
Miris, sedih, sakit melihat dan merasakan mental anak- anak itu hancur, terluka. Pola pikir serta cara pandang mereka tersasar. Sebetulnya anak hanya butuh contoh, karena anak kecil, anak yang berusia dini cara berfikirnya masihlah konkrit atau nyata. secara tidak langsung apa yang dia lihat dan dia dengar itulah pengetahuan yang mereka punya, sehingga mereka akan melakukan suatu hal atas dasar pengetahuannya karena memang itulah pola berfikirnya, konkrit.
Sejauh ini seorang guru hanya bisa mengingatkan, mencontohkan dan mendoakan agar mereka dapat berubah karena lingkungan yang dihadapinya di sekolah. Dan untuk para orangtua berhentilah menyakiti mental mereka yang masih polos yang hanya bisa meniru belum pandai memilah-milih, dan untuk kalian para calon orangtua, siapkan hati yang tulus karena Allah swt, untuk membangun generasi- generasi yang dapat membahagiakan dan membela baik keluarganya, lingkungannya, agamanya, dan juga negaranya kelak. Aamiin.
Wallahualam
biishowab.
sumber gambar : www.google.com
Komentar
Posting Komentar