Langsung ke konten utama

Anakku Jadi Korban Kekerasan

Hasil gambar untuk kekerasan anak

Sebagai orangtua dan dewasa terkadang kita lupa bahwa seorang anak merupakan asset, baik bagi keluarganya, lingkungannya, agamanya begitupun untuk negaranya. Bagaimana jika hak- hak anak tak sepenuhnya tersampaikan, jangankan untuk pendidikan, tempat tinggal, makan dan minum, hal yang terutama perlu tersampaikan adalah kasih dan sayang dari sekelilingnya terutama orangtua dan keluarganya. Jangan salahkan sekolah jika ternyata anak sering dikatakan “nakal” oleh lingkungan sekolahnya padahal yang sebenarnya orangtualah yang harus berkaca mengenai pendidikan pertama anaknya yaitu dirumah. Jangan salahkan teman- teman dilingkungan rumahnya jika mereka sering membuat temannya menangis, memukul dengan sembarangan, berkata kasar, dan hal lain sebagainya. Sebagai orangtua berkacalah, bagaimana sebetulnya selama ini pendidikan pertama yang telah diberikan ? pengaruh perilaku seseorang memang dapat dipengaruhi dari berbagai hal, seperti lingkungan sekolah dan lingkungan rumah tetapi jangan dilupakan bahwa lingkungan keluargapun sangat berpengaruh.

Sering kita dengar bahwa, orangtua tidak ada yang tidak menyayangi anaknya, walaupun harus dengan pukulan, omelan, dan caci maki, maka itulah yang disebut tanda sayang mereka. Aku setuju bahwa orangtua pastilah menyayangi anaknya, tapi aku sangat tidak setuju dengan didikan yang begitu keras seperti halnya diatas. Di dalam islam, seorang anak boleh dipukul jika mereka enggan melaksanakan shalat, bukan hal lainnya. Setiap pukulan, omelan, dan caci maki memang bisa membuat sebagian anak jera dengan hal itu, namun harus diketahui bahwa hal itu hanya kebal di rumah, bukan di luar rumah.


Sering sekali aku menemukan anak- anak yang begitu takut dengan orangtuanya di rumah sehingga mereka menjadi anak yang pendiam, namun ketika mereka bertemu temannya dilingkungan lain atau bertemu orang lain, mereka akan melampiaskan apa yang mereka dapat di rumah kepada orang lain di luar rumahnya. Orangtua yang paham bahwa anak adalah titipan yang sudah Allah berikan kepada mereka, maka mereka pasti tahu jika anak bisa saja menjadi cobaan atau sebaliknya, mereka tahu anak ini harus diapakan sehingga kelak bisa membela agama tuhannya, bisa membahagiakan keluarganya, bisa membantu lingkungan dan negaranya. Jika hanya dengan berbagai kekerasan yang dilontarkan, apakah mereka mampu untuk itu ? membuat dirinya baik pun sulit karena keluarga hanya menanamkan kekerasan. Apa mereka harus membela dengan kekerasan ? dengan caci maki ? lebih banyak orang melakukan sesuatu hal atas dasar pengetahuannya bukan pemahamannya. Mereka tahu untuk menyelesaikan masalah bisa dengan kekerasan tetapi tidak paham bahwa kekerasan yang dirinya lakukan belum tentu menyelesaikan setiap masalah yang ada.
   
Tri pusat pendidikan yang kita ketahui adalah, lingkungan keluarga, lingkungan rumah, dan lingkungan sekolah. Semenjak kuliah di jurusan PGSD, aku sering mendengar kasus bahwa terdapat anak yang terlahir di lingkungan keluarga yang baik namun memiliki kepribadian yang buruk, padahal yang kita ketahui sebelumnya adalah pendidikan pertama itu terlahir di keluarga sehingga seharusnya pondasi tersebut harus sudah kuat, namun ternyata hal ini bisa saja berubah karena lingkungan rumah atau sekolah yang sangat kejam ditambah ketika pengawasan keluarga yang menurun karena menganggap atau terlanjur mengenal anaknya baik ketika bersama keluarganya. Maka perlu diketahui sebetulnya hal inipun kembali lagi terhadap pengawasan orangtua yang begitu sangat penting. Memang sangat banyak kasus pelecehan seksual, narkoba, dan lain kasus yang menyeramkan tetapi ini semua kembali lagi, semua harus bermula dari pendidikan agama, pendidikan karakter yang terbangun dengan sangat baik, dan juga membangun pribadi anak yang percaya bahwa orangtua pendukung mereka, orangtua yang sangat menyayangi mereka, bukan malah menghancurkan kepercayaan anak bahwa, ternyata orangtua mereka yang begitu menyayangi mereka, tetapi seketikapun dapat berubah menjadi monster, menjadi musuh nyata yang mereka hadapi, sehingga anak mengalami kerusakan mental, pembentukan cara pandang dan pola pikir yang tidak baik, pola pikir kekerasan dan hal- hal kasar yang lainnya.

Aku memang belum lama ini terjun di dunia sekolah, dunia anak- anak yang sangat polos, dunia anak yang tahu bahwa orangtuanyalah yang menyayangi mereka, orangtuanyalah yang benar dan lain sebagainya. Sehingga ketika orangtua berkata kasar, memukul, maka itulah yang mereka tanam dalam- dalam pada diri mereka. Usia- usia di sekolah TK yang masih sangat baik dalam menyerap dan menerapkan hal- hal baik yang dia lihat dan dia dengar. Namun ternyata harus disayangkan anak seusia mereka sudah memiliki banyak sekali kosa kata kasar dan tak senonoh. Mereka datang ke sekolah dengan muka lebam dan dengan polos mengatakan kepada gurunya jika dirinya "dipukul mamah", mereka tanpa rasa bersalah dapat dengan mudah memukul temannya karena hal sepele atau malah tanpa ada masalah sama sekali, mereka hanya bisa memberi alasan “mamah/ayahku juga suka pukul”. 

Miris, sedih, sakit melihat dan merasakan mental anak- anak itu hancur, terluka. Pola pikir serta cara pandang mereka tersasar. Sebetulnya anak hanya butuh contoh, karena anak kecil, anak yang berusia dini cara berfikirnya masihlah konkrit atau nyata. secara tidak langsung apa yang dia lihat dan dia dengar itulah pengetahuan yang mereka punya, sehingga mereka akan melakukan suatu hal atas dasar pengetahuannya karena memang itulah pola berfikirnya, konkrit.

Sejauh ini seorang guru hanya bisa mengingatkan, mencontohkan dan mendoakan agar mereka dapat berubah karena lingkungan yang dihadapinya di sekolah. Dan untuk para orangtua berhentilah menyakiti mental mereka yang masih polos yang hanya bisa meniru belum pandai memilah-milih, dan untuk kalian para calon orangtua, siapkan hati yang tulus karena Allah swt, untuk membangun generasi- generasi yang dapat membahagiakan dan membela baik keluarganya, lingkungannya, agamanya, dan juga negaranya kelak. Aamiin.

Wallahualam biishowab.     
Hasil gambar untuk kekerasan anak
sumber gambar : www.google.com




Komentar

Pengalaman pertama dipanggil "ibu ambar" #cerita ambar1

Puisi; Seperti Mimpi Buruk

Seperti Mimpi Buruk oleh : Ambar Haerani seperti mimpi buruk degup jantung tidak seirama nafas tidak sakit tetapi sedikit sesak tidur kali ini membuatku haus alarm tidak menyala dan berdering tapi kurasa setiap menit dia membangunkan tetap pada posisi berbaring dan lagi kucoba pejamkan seperti mimpi buruk dan benar aku taklagi pejamkan mata tapi nyatanya bukan mimpi buruk degupan jantung yang kencang karena satu tanda hening sepi... gelap, remang dengan cahaya bulan sesekali sahutan ayam berbunyi saat itu hanya aku yang terbangun seperti mimpi buruk namun hilang seketika, karena itu bukan mimpi buruk dia hadir bersama heningnya malam sampaikan rindu yang tlah lama terpendam hai kamu, apa kabar .. ternyata berbicara jarak tak selalu menyedihkan hai kamu, apa kabar .. ternyata jarak malah membuat rindu dan ingin slalu bersama selamat sore teman teman blogers, baru posting lagi nih diaw...

Gagal Hal Biasa, Mencoba tidak Semua Bisa, ketika Berhasil itulah yang Luar Biasa

     Banyak diantara kita yang merasa takut gagal sebelum mencoba sesuatu hal diluar kebiasaan yang biasa dilakukan. Takut mencoba sesuatu hal yang baru, yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Padahal sesuatu yang baik mengapa tidak untuk dicoba dilakukan walaupun sebenarnya kita tidak memiliki keahlian didalamnya. Perilaku yang baik biasanya tertanam dari niat yang baik, kegiatan positif akan timbul ketika hati dan fikiran menuju kepada hal yang positif, dan keberhasilan berawal dari niat baik, hati serta fikiran positif yang mengarahkan raga menuju kegiatan yang positif.             Suatu keahlian tidak selalu harus menempuh jenjang sekolah , sehingga banyak orang memiliki keahlian yang baik namun bukan dikarenakan dirinya pernah sekolah dalam bidang keahliannya, melainkan dirinya mengawali hal tersebut dari mencoba dan mulai menekuninya. Walaupun memang, sering di kehidupan kita keahlian dapat diakui bila kita telah mendapatkan se...

Inilah Ketika Ibu Ambar Mengajar " a i u e o " #cerita ambar2

                  Benar adanya, bahwa kemampuan seseorang tidak bisa dipukul rata sama. Karena kenyataan yang kuhadapi, setiap orang memiliki keunggulan dan kekurangannya masing- masing. Seseorang dapat belajar dan memahami sebuah pelajaran dengan cara yang berbeda- beda atau dengan waktu yang berbeda juga, dapat memahami dengan cepat atau lambat, atau malah lambat sekali. Tetapi dibalik itu semua haruslah ada kesungguhan yang mengiringi.    Tidakkah akan menurun jika pemahaman yang cepat tidak dibarengi dengan kesungguhan ? mungkin dalam pembelajaran dia akan mengalami sedikit perlambatan sehingga bisa saja dirinya tersusul oleh seseorang yang pemahamannya lambat namun memiliki kesungguhan belajar yang luar biasa. Tetapi berbeda lagi dengan seseorang yang pemahamannya lambat dan tidak memiliki kesungguhan untuk belajar atau kesungguhan untuk menjadi lebih baik, karena pastilah dirinya akan tertinggal jauh di belakang....