Langsung ke konten utama

.CERPEN. Jangan Marah Niscahya Bagimu Surga




Dengan muka mengejek, mulut nyengir begitu lebar, andra sangat puas menertawai mukaku yang bulat dengan mata belo, dan bibirku yang sedikit maju atau biasa mereka bilang adalah monyong. Ini bukan hanya yang pertama kali, tetapi ini yang kesekian kalinya dia beserta teman- temannya mengejekku dengan sangat puas, dengan tawanya yang sampai terdengar cekikikan. “ron, lihat tuh si monyong melototin kita, kabur eh kabur hahaha” “biasa aja dong liatinnya” “biasa aja dong ngomongnya, bibirnya ngajak ribut ih” begitulah seterusnya andra dan temannya roni secara tidak langsung mengejek mukaku yang memang tidak cantik seperti kebanyakan teman ceweku yang lain. Suatu ketika, aku sangat tidak terima dengan ejekan mereka, aku kesal, aku sebal, dan aku sangat marah dengan mereka. Ketika itu sedang ada ulangan harian pelajaran matematika, andra dan roni memaksa meminta jawaban kepadaku, aku tidak bisa, aku tidak diajarkan untuk curang oleh kedua orangtuaku, aku tidak dibiasakan untuk contek- mencontek dan juga dicontek sehingga saat itu andra dan roni kesal karena tidak berhasil mendapat jawaban hasil ulangan harianku, di jam istirahat dia mengejek bukan lagi diselingi dengan tawa, tapi mereka mengejek dengan nada kesal. “ Siti, kamu sombong banget sih! Belagu! cuma liat sedikit doang gak boleh! Belagu tau gak! mata belo bibir monyong aja sok- sokan, kalau kamu gak pinter juga, siapa yang mau temenan sama kamu !”

Saat itu, kata- kata itu sangat menyakitkan, dan saat itu juga aku begitu marah dengan andra dan roni. “heh kamu mikir! Aku susah payah belajar bukan untuk kamu, kalau mau bisa ya belajar! Otak kamu dipake buat apa ? buat ngejek orang doang? Buat jelek – jelekin orang doang ? sekarang siapa yang belagu !!! dikasih otak buat mikir ko gak dipake!!!” siti menjawabnya dengan nada marah dan kesal, namun tidak berhenti hanya disitu, andra dan roni terus membalas dan mengejek siti, siti hanya terdiam dan akhirnya tumpah air mata siti menahan sedih dan amarah, tidak lama kemudian, bu nada menhampiri andra, roni, dan siti. “ hey, hey, ada apa ini, andra ! roni ! kamu apakan siti sampai menangis begini ? andra dan roni menjawab dengan sangat gugup “e.e.e..nnga ada apa-apa bu, gatau itu siti kenapa” lalu mereka pergi begitu saja meninggalkan siti dan bu nada di depan kelas VI. “siti, kamu kenapa?” siti masih menangis dan belum mau berbicara, lalu siti diajak bu nada pergi ke ruangan bu nada. “ayo cerita sama ibu sit” siti menceritakan segala kejadian yang terjadi kepada bu nada dengan hati yang sakit dan perasaan yang sangat sedih, siti masih saja menangis saat becerita. Bu nada meyakinkan siti untuk tidak putus asa, dan menghiraukan anak- anak yang sering mengejeknya, setelah itu siti kembali ke kelasnya untuk kembali belajar.

Aku adalah Siti Nur Rohmah, aku dikenal dengan nama siti di sekolahku maupun di lingkungan rumahku. Aku duduk di bangku kelas VI SD di SD Negeri 1 Sukajadi, aku baru saja pindah rumah ke salah satu daerah di Desa Sukajadi di provinsi Banten, aku baru tinggal disini kurang lebih 5 bulan, aku masih sangat beradaptasi di sini, aku belum punya teman main di rumah maupun sekolah. Sebelumnya aku tinggal di Desa Ciawi Bogor, aku pindah karena pekerjaan ayahku dipindahkan di pabrik yang berada di banten hingga umur pensiun ayahku tiba. Aku tiga bersaudara, aku anak kedua, kakakku laki- laki masih kelas 2 SMA dan adikku perempuan masih di usia TK. Ibuku adalah ibu rumah tangga, namun saat aku masih di Bogor, ibuku setiap pagi berjualan nasi uduk, gorengan, dan semacamnya. Kami memang bukan keluarga kaya, tapi kami juga bukan keluarga yang serba kekurangan, bisa dibilang ekonomi keluarga kami berada di tengah- tengah namun tetap dengan kedua orangtua yang begitu sibuk.

Andra dan roni adalah teman kelasku di sekolahku yang baru, ketika berkenalan mereka sudah sangat bahagia menertawakanku, Karena mukaku yang bulat dan bibirku yang monyong ini. Andra dan roni tidak bandel yang berlebihan seperti bertengkar, melawan guru atau hal ekstrim yang lainnya. namun mereka sangat senang  mengejek temannya dengan mulut mereka, menjelekan temannya, hingga mengolok-olok. Sedangkan bu nada adalah guru favorit di sekolah, karena dengan bu nada, semua masalah yang ada bisa teratasi dan membuat hati akan terasa tenang dan tentram. Bu nada berparas cantik, berhijab dengan warna- warna yang lembut, bertutur dengan santun dan membangun, bertingkah dengan baik dan bijaksana. Bu nada sebagai guru bimbingan konseling di sekolahku yang baru.

Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi juga, semenjak kejadian di jam istirahat aku sangat tidak nyaman di sekolah, aku ingin segera pulang, masuk kamar dan tidur menenangkan diri. Saat di jalan pulang, di depan gerbang sekolah, aku kembali bertemu andra dan roni dengan muka yang tidak pernah menampakkan rasa bersalah dan penyesalan. Saat itu aku sangat tidak sudi, tidak rela berpapasan dengan mereka, aku sudah sangat kesal dan merasa tidak mampu lagi meladeni mereka. Maka saat itu aku langsung berbalik badan dan berlari pulang melalui pintu keluar lain yang ada di sekolah. “Assalamu’alaikum…” ucapku ketika sampai di rumah, ketika itu rumah sangat sepi, ayahku setiap hari nya pulang jam 7 malam, kakak ku pulang sore hari, dan adik ku pasti bersama ibu entah kemana, untungnya pintu rumah tidak terkunci. “akhirnya… kasur ku…” dengan posisi merebahkan badan, mata tertuju ke langit- langit, tiba- tiba aku meneteskan air mata, lalu..aku mengambil cermin untuk melihat wajahku. Dalam hati aku merintih “apa yang salah dari diri aku ? aku sempurna, semua anggota tubuhku lengkap dan berfungsi dengan baik, apa ini salah aku ? mata ku belo, bibir ku monyong apa salah aku ? tiba – tiba ibuku pulang , aku segera menghapus air mataku.

Sitiiiii… dengan nada tinggi. Aku kaget, hatiku sudah tidak enak. Ibuku seseorang yang emosional, semenjak ibuku terserang penyakit darah tinggi, ibu ku semakin sering marah- marah. Bukan hanya ibu, itupun turun terhadap diriku, akupun sama, suka marah – marah. “apa si bu ?” aku menjawab dengan nada kesal. “ itu kenapa si gak dirapihin ka ? pulang dari kapan ? itu diluar bukannya disapuin, piring dicuciin, itu bantal disimpenin dan bla… bla… bla… “ “yaa orang baru pulang !” jawabku dengan nada yang lebih kesal. Karena aku anak perempuan paling besar, maka ibuku banyak mengandalkan aku untuk masalah- masalah seperti itu. Karena kejadian itu aku semakin marah rasanya mau teriak dan banting ini itu, bukannya menyelesaikan apa yang disuruh ibuku, aku malah kembali masuk kamar dan membanting pintu kamar “bbbuuuukkkk”.

Semenjak itu, aku tidak keluar kamarku, tidak ada juga yang menghampiriku ke dalam kamar, aku sedih, kenapa hari ini begitu menyebalkan, kenapa ibuku sendiri tidak mengerti, kenapa ..? kenapa..? dan kenapa ..? tidak lama kemudia ada yang membuka pintu kamarku, ternyata dia ayahku. Hanya ayah yang banyak memotivasi, hanya ayah idola terbesarku untuk menjadi orang baik, hanya ayah yang menjadi cermin dimana aku ingin sekali menjadi bayangannya. Seperti ayah, aku suka. “kenapa ka ? “ Tanya ayahku, setiap kali aku sedih, aku tak mampu bercerita karena pasti lebih dominan tangis yang ada. “ayo cerita sama ayah” bujuk ayahku agar aku mau bercerita. Perlahan- lahan aku mulai menceritakan apa yang terjadi, sebelum itu aku banyak mengajukan pertanyaan kepada ayahku.

“ ayah, kenapa ada orang yang mulutnya begitu jahat ? sangat jahat. Mulutnya menyakiti, tidak memikirkan perasaan orang yang disakiti ? mencaci, mengolok, mengejek ..”
“ayah kenapa, orang tidak bisa menahan mulut nya untuk menyakiti orang lain, tidak bisa menggunakan mulutnya hanya untuk berbicara yang baik ?”
“ayah kenapa, banyak orang jika marah, mulutnya sangat menyakiti ? membuat sangat sedih, apa tidak ada cara lain ? kenapa ayah ?”
Siti bertanya namun dengan terisak – isak. “kaka kenapa sih ? ada apa ? kenapa nanya kaya gitu?” siti kembali menceritakan yang ia alami hari ini.

            Begini ya ka, mulut itu memang sangat berbahaya, ada pepatah mengatakan “mulut itu lebih tajam dari pedang”, bisa sangat menyakiti, dalam hadist pun dikatakan “berkata baik atau diam” jadi hendaknya, jika bukan kata- kata baik yang akan diucapkan sebaiknya kita diam saja. Orang- orang yang kerjanya mengolok, mengejek, dan sebagainya pasti hatinya keras, jauh dari Allah, jauh dari Al-quran, atau bisa saja dia memang tidak tahu jika itu bukan perbuatan terpuji, jika seperti itu maka tugas kita adalah menegur dan memberi tahu. Gimana kalau dia mengejek kita ? Rasul kita mengajarkan, jika ada yang berbuat tidak baik terhadap kita, balaslah kembali dengan perbuatan baik karena dengan itu, hati dia sedikit demi sedikit akan menerima kita. Rasul pun begitu ketika mengajak kepada kebaikan, namun selalu ditolak, dengan ejekan, cacian, bahkan hingga dilempari batu dan di cudahi. Jadi ka… kalau ada teman yang senangnya mengejek, biarkan yaa .. kasih senyum tetap berbuat baik, jangan malah balik marah – marah, kalau begitu apa bedanya dong kaka dengan teman kaka yang suka mengejek itu ?

            Nah kalau masalah ibu yang marah- marah, sama saja ka, mungkin ibu cape, tapi sampe rumah, rumahnya berantakan, ibu juga gatau dong kaka baru pulang ? kan kaka gak kasih tau ibu, kaka harus mulai mengerti sifat ibu yang seperti itu, memang ngomongnya suka dengan nada tinggi, kaka yang sabar, tetap berbuat baik walaupun ibunya suka marah- marah, dan sebelum ibu marah- marah kaka harus sudah mengerti untuk bantu ibu yaaa.. dengan itu semoga aja ibu berkurang marah- marahnya, jangan malah balik marah, jangan sekali- kali balas dengan suara keras, malah hal itu yang tidak pantas dilakukan oleh seorang anak terhadap orangtua, Allah suka orang yang sabar, Allah juga akan kasih surga bagi orang yang bisa menahan amarahnya, hayo apa ahadistnya ? iyaaa… “ laa taghdhob walakal jannah” janganlah engkau marah, niscahya bagimu surga. “Paham yaaa sekarang” Tanya ayah, aku hanya mengangguk sembari menghapus sisa-sisa air mata yang berjatuhan tadi. “yaudah, kaka sudah shalat isya ?” kali ini aku menggeleng, karena semenjak tadi, aku berada di dalam kamar. “yo, shalat isya dulu habis itu langsung tidur ya ka.” Ayah kembali ke kamarnya, dan mulai sekarang aku tau apa yang harus  aku lakukan ketika menghadapi andra dan roni begitupun bersabar untuk tidak membalas amarah ibuku. Dan sekarang waktunya shalat isya, hm semangat!!!



-          S  E  L  E  S  A  I    -

Komentar

Pengalaman pertama dipanggil "ibu ambar" #cerita ambar1

Puisi; Seperti Mimpi Buruk

Seperti Mimpi Buruk oleh : Ambar Haerani seperti mimpi buruk degup jantung tidak seirama nafas tidak sakit tetapi sedikit sesak tidur kali ini membuatku haus alarm tidak menyala dan berdering tapi kurasa setiap menit dia membangunkan tetap pada posisi berbaring dan lagi kucoba pejamkan seperti mimpi buruk dan benar aku taklagi pejamkan mata tapi nyatanya bukan mimpi buruk degupan jantung yang kencang karena satu tanda hening sepi... gelap, remang dengan cahaya bulan sesekali sahutan ayam berbunyi saat itu hanya aku yang terbangun seperti mimpi buruk namun hilang seketika, karena itu bukan mimpi buruk dia hadir bersama heningnya malam sampaikan rindu yang tlah lama terpendam hai kamu, apa kabar .. ternyata berbicara jarak tak selalu menyedihkan hai kamu, apa kabar .. ternyata jarak malah membuat rindu dan ingin slalu bersama selamat sore teman teman blogers, baru posting lagi nih diaw...

Gagal Hal Biasa, Mencoba tidak Semua Bisa, ketika Berhasil itulah yang Luar Biasa

     Banyak diantara kita yang merasa takut gagal sebelum mencoba sesuatu hal diluar kebiasaan yang biasa dilakukan. Takut mencoba sesuatu hal yang baru, yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Padahal sesuatu yang baik mengapa tidak untuk dicoba dilakukan walaupun sebenarnya kita tidak memiliki keahlian didalamnya. Perilaku yang baik biasanya tertanam dari niat yang baik, kegiatan positif akan timbul ketika hati dan fikiran menuju kepada hal yang positif, dan keberhasilan berawal dari niat baik, hati serta fikiran positif yang mengarahkan raga menuju kegiatan yang positif.             Suatu keahlian tidak selalu harus menempuh jenjang sekolah , sehingga banyak orang memiliki keahlian yang baik namun bukan dikarenakan dirinya pernah sekolah dalam bidang keahliannya, melainkan dirinya mengawali hal tersebut dari mencoba dan mulai menekuninya. Walaupun memang, sering di kehidupan kita keahlian dapat diakui bila kita telah mendapatkan se...

Inilah Ketika Ibu Ambar Mengajar " a i u e o " #cerita ambar2

                  Benar adanya, bahwa kemampuan seseorang tidak bisa dipukul rata sama. Karena kenyataan yang kuhadapi, setiap orang memiliki keunggulan dan kekurangannya masing- masing. Seseorang dapat belajar dan memahami sebuah pelajaran dengan cara yang berbeda- beda atau dengan waktu yang berbeda juga, dapat memahami dengan cepat atau lambat, atau malah lambat sekali. Tetapi dibalik itu semua haruslah ada kesungguhan yang mengiringi.    Tidakkah akan menurun jika pemahaman yang cepat tidak dibarengi dengan kesungguhan ? mungkin dalam pembelajaran dia akan mengalami sedikit perlambatan sehingga bisa saja dirinya tersusul oleh seseorang yang pemahamannya lambat namun memiliki kesungguhan belajar yang luar biasa. Tetapi berbeda lagi dengan seseorang yang pemahamannya lambat dan tidak memiliki kesungguhan untuk belajar atau kesungguhan untuk menjadi lebih baik, karena pastilah dirinya akan tertinggal jauh di belakang....