Dengan muka mengejek, mulut nyengir begitu lebar, andra sangat puas
menertawai mukaku yang bulat dengan mata belo, dan bibirku yang sedikit maju
atau biasa mereka bilang adalah monyong. Ini bukan hanya yang pertama kali,
tetapi ini yang kesekian kalinya dia beserta teman- temannya mengejekku dengan
sangat puas, dengan tawanya yang sampai terdengar cekikikan. “ron, lihat tuh si
monyong melototin kita, kabur eh kabur hahaha” “biasa aja dong liatinnya”
“biasa aja dong ngomongnya, bibirnya ngajak ribut ih” begitulah seterusnya
andra dan temannya roni secara tidak langsung mengejek mukaku yang memang tidak
cantik seperti kebanyakan teman ceweku yang lain. Suatu ketika, aku sangat
tidak terima dengan ejekan mereka, aku kesal, aku sebal, dan aku sangat marah dengan
mereka. Ketika itu sedang ada ulangan harian pelajaran matematika, andra dan
roni memaksa meminta jawaban kepadaku, aku tidak bisa, aku tidak diajarkan
untuk curang oleh kedua orangtuaku, aku tidak dibiasakan untuk contek-
mencontek dan juga dicontek sehingga saat itu andra dan roni kesal karena tidak
berhasil mendapat jawaban hasil ulangan harianku, di jam istirahat dia mengejek
bukan lagi diselingi dengan tawa, tapi mereka mengejek dengan nada kesal. “ Siti,
kamu sombong banget sih! Belagu! cuma liat sedikit doang gak boleh! Belagu tau
gak! mata belo bibir monyong aja sok- sokan, kalau kamu gak pinter juga, siapa
yang mau temenan sama kamu !”
Saat itu, kata- kata itu sangat menyakitkan, dan saat itu juga aku
begitu marah dengan andra dan roni. “heh kamu mikir! Aku susah payah belajar
bukan untuk kamu, kalau mau bisa ya belajar! Otak kamu dipake buat apa ? buat
ngejek orang doang? Buat jelek – jelekin orang doang ? sekarang siapa yang
belagu !!! dikasih otak buat mikir ko gak dipake!!!” siti menjawabnya dengan
nada marah dan kesal, namun tidak berhenti hanya disitu, andra dan roni terus
membalas dan mengejek siti, siti hanya terdiam dan akhirnya tumpah air mata
siti menahan sedih dan amarah, tidak lama kemudian, bu nada menhampiri andra,
roni, dan siti. “ hey, hey, ada apa ini, andra ! roni ! kamu apakan siti sampai
menangis begini ? andra dan roni menjawab dengan sangat gugup “e.e.e..nnga ada
apa-apa bu, gatau itu siti kenapa” lalu mereka pergi begitu saja meninggalkan
siti dan bu nada di depan kelas VI. “siti, kamu kenapa?” siti masih menangis
dan belum mau berbicara, lalu siti diajak bu nada pergi ke ruangan bu nada.
“ayo cerita sama ibu sit” siti menceritakan segala kejadian yang terjadi kepada
bu nada dengan hati yang sakit dan perasaan yang sangat sedih, siti masih saja
menangis saat becerita. Bu nada meyakinkan siti untuk tidak putus asa, dan
menghiraukan anak- anak yang sering mengejeknya, setelah itu siti kembali ke
kelasnya untuk kembali belajar.
Aku adalah Siti Nur Rohmah, aku dikenal dengan nama siti di
sekolahku maupun di lingkungan rumahku. Aku duduk di bangku kelas VI SD di SD
Negeri 1 Sukajadi, aku baru saja pindah rumah ke salah satu daerah di Desa
Sukajadi di provinsi Banten, aku baru tinggal disini kurang lebih 5 bulan, aku
masih sangat beradaptasi di sini, aku belum punya teman main di rumah maupun
sekolah. Sebelumnya aku tinggal di Desa Ciawi Bogor, aku pindah karena
pekerjaan ayahku dipindahkan di pabrik yang berada di banten hingga umur
pensiun ayahku tiba. Aku tiga bersaudara, aku anak kedua, kakakku laki- laki
masih kelas 2 SMA dan adikku perempuan masih di usia TK. Ibuku adalah ibu rumah
tangga, namun saat aku masih di Bogor, ibuku setiap pagi berjualan nasi uduk,
gorengan, dan semacamnya. Kami memang bukan keluarga kaya, tapi kami juga bukan
keluarga yang serba kekurangan, bisa dibilang ekonomi keluarga kami berada di
tengah- tengah namun tetap dengan kedua orangtua yang begitu sibuk.
Andra dan roni adalah teman kelasku di sekolahku yang baru, ketika
berkenalan mereka sudah sangat bahagia menertawakanku, Karena mukaku yang bulat
dan bibirku yang monyong ini. Andra dan roni tidak bandel yang berlebihan
seperti bertengkar, melawan guru atau hal ekstrim yang lainnya. namun mereka
sangat senang mengejek temannya dengan
mulut mereka, menjelekan temannya, hingga mengolok-olok. Sedangkan bu nada adalah
guru favorit di sekolah, karena dengan bu nada, semua masalah yang ada bisa
teratasi dan membuat hati akan terasa tenang dan tentram. Bu nada berparas
cantik, berhijab dengan warna- warna yang lembut, bertutur dengan santun dan
membangun, bertingkah dengan baik dan bijaksana. Bu nada sebagai guru bimbingan
konseling di sekolahku yang baru.
Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi juga, semenjak kejadian di jam
istirahat aku sangat tidak nyaman di sekolah, aku ingin segera pulang, masuk
kamar dan tidur menenangkan diri. Saat di jalan pulang, di depan gerbang
sekolah, aku kembali bertemu andra dan roni dengan muka yang tidak pernah
menampakkan rasa bersalah dan penyesalan. Saat itu aku sangat tidak sudi, tidak
rela berpapasan dengan mereka, aku sudah sangat kesal dan merasa tidak mampu
lagi meladeni mereka. Maka saat itu aku langsung berbalik badan dan berlari
pulang melalui pintu keluar lain yang ada di sekolah. “Assalamu’alaikum…”
ucapku ketika sampai di rumah, ketika itu rumah sangat sepi, ayahku setiap hari
nya pulang jam 7 malam, kakak ku pulang sore hari, dan adik ku pasti bersama
ibu entah kemana, untungnya pintu rumah tidak terkunci. “akhirnya… kasur ku…”
dengan posisi merebahkan badan, mata tertuju ke langit- langit, tiba- tiba aku
meneteskan air mata, lalu..aku mengambil cermin untuk melihat wajahku. Dalam
hati aku merintih “apa yang salah dari diri aku ? aku sempurna, semua anggota
tubuhku lengkap dan berfungsi dengan baik, apa ini salah aku ? mata ku belo,
bibir ku monyong apa salah aku ? tiba – tiba ibuku pulang , aku segera
menghapus air mataku.
Sitiiiii… dengan nada tinggi. Aku kaget, hatiku sudah tidak enak.
Ibuku seseorang yang emosional, semenjak ibuku terserang penyakit darah tinggi,
ibu ku semakin sering marah- marah. Bukan hanya ibu, itupun turun terhadap
diriku, akupun sama, suka marah – marah. “apa si bu ?” aku menjawab dengan nada
kesal. “ itu kenapa si gak dirapihin ka ? pulang dari kapan ? itu diluar
bukannya disapuin, piring dicuciin, itu bantal disimpenin dan bla… bla… bla… “
“yaa orang baru pulang !” jawabku dengan nada yang lebih kesal. Karena aku anak
perempuan paling besar, maka ibuku banyak mengandalkan aku untuk masalah-
masalah seperti itu. Karena kejadian itu aku semakin marah rasanya mau teriak
dan banting ini itu, bukannya menyelesaikan apa yang disuruh ibuku, aku malah
kembali masuk kamar dan membanting pintu kamar “bbbuuuukkkk”.
Semenjak itu, aku tidak keluar kamarku, tidak ada juga yang
menghampiriku ke dalam kamar, aku sedih, kenapa hari ini begitu menyebalkan,
kenapa ibuku sendiri tidak mengerti, kenapa ..? kenapa..? dan kenapa ..? tidak
lama kemudia ada yang membuka pintu kamarku, ternyata dia ayahku. Hanya ayah
yang banyak memotivasi, hanya ayah idola terbesarku untuk menjadi orang
baik, hanya ayah yang menjadi cermin dimana aku ingin sekali menjadi
bayangannya. Seperti ayah, aku suka. “kenapa ka ? “ Tanya ayahku, setiap kali
aku sedih, aku tak mampu bercerita karena pasti lebih dominan tangis yang ada.
“ayo cerita sama ayah” bujuk ayahku agar aku mau bercerita. Perlahan- lahan aku
mulai menceritakan apa yang terjadi, sebelum itu aku banyak mengajukan
pertanyaan kepada ayahku.
“ ayah, kenapa ada orang yang mulutnya begitu jahat ? sangat jahat.
Mulutnya menyakiti, tidak memikirkan perasaan orang yang disakiti ? mencaci,
mengolok, mengejek ..”
“ayah kenapa, orang tidak bisa menahan mulut nya untuk menyakiti
orang lain, tidak bisa menggunakan mulutnya hanya untuk berbicara yang baik ?”
“ayah kenapa, banyak orang jika marah, mulutnya sangat menyakiti ?
membuat sangat sedih, apa tidak ada cara lain ? kenapa ayah ?”
Siti bertanya namun dengan terisak – isak. “kaka kenapa sih ? ada
apa ? kenapa nanya kaya gitu?” siti kembali menceritakan yang ia alami hari
ini.
Begini ya ka,
mulut itu memang sangat berbahaya, ada pepatah mengatakan “mulut itu lebih
tajam dari pedang”, bisa sangat menyakiti, dalam hadist pun dikatakan “berkata
baik atau diam” jadi hendaknya, jika bukan kata- kata baik yang akan diucapkan
sebaiknya kita diam saja. Orang- orang yang kerjanya mengolok, mengejek, dan
sebagainya pasti hatinya keras, jauh dari Allah, jauh dari Al-quran, atau bisa
saja dia memang tidak tahu jika itu bukan perbuatan terpuji, jika seperti itu
maka tugas kita adalah menegur dan memberi tahu. Gimana kalau dia mengejek kita
? Rasul kita mengajarkan, jika ada yang berbuat tidak baik terhadap kita,
balaslah kembali dengan perbuatan baik karena dengan itu, hati dia sedikit demi
sedikit akan menerima kita. Rasul pun begitu ketika mengajak kepada kebaikan, namun selalu ditolak, dengan ejekan, cacian, bahkan hingga dilempari batu dan
di cudahi. Jadi ka… kalau ada teman yang senangnya mengejek, biarkan yaa ..
kasih senyum tetap berbuat baik, jangan malah balik marah – marah, kalau begitu
apa bedanya dong kaka dengan teman kaka yang suka mengejek itu ?
Nah kalau masalah
ibu yang marah- marah, sama saja ka, mungkin ibu cape, tapi sampe rumah,
rumahnya berantakan, ibu juga gatau dong kaka baru pulang ? kan kaka gak kasih
tau ibu, kaka harus mulai mengerti sifat ibu yang seperti itu, memang
ngomongnya suka dengan nada tinggi, kaka yang sabar, tetap berbuat baik
walaupun ibunya suka marah- marah, dan sebelum ibu marah- marah kaka harus
sudah mengerti untuk bantu ibu yaaa.. dengan itu semoga aja ibu berkurang
marah- marahnya, jangan malah balik marah, jangan sekali- kali balas dengan
suara keras, malah hal itu yang tidak pantas dilakukan oleh seorang anak
terhadap orangtua, Allah suka orang yang sabar, Allah juga akan kasih surga
bagi orang yang bisa menahan amarahnya, hayo apa ahadistnya ? iyaaa… “ laa
taghdhob walakal jannah” janganlah engkau marah, niscahya bagimu surga. “Paham
yaaa sekarang” Tanya ayah, aku hanya mengangguk sembari menghapus sisa-sisa air
mata yang berjatuhan tadi. “yaudah, kaka sudah shalat isya ?” kali ini aku
menggeleng, karena semenjak tadi, aku berada di dalam kamar. “yo, shalat isya
dulu habis itu langsung tidur ya ka.” Ayah kembali ke kamarnya, dan mulai
sekarang aku tau apa yang harus aku
lakukan ketika menghadapi andra dan roni begitupun bersabar untuk tidak
membalas amarah ibuku. Dan sekarang waktunya shalat isya, hm semangat!!!
-
S E
L E S
A I -


Komentar
Posting Komentar